Jatuhnya bom atom di Hiroshima membuat Akihiro
kehilangan ayahnya yang terkena akibat dari radiasi bom atom. Kemudian, dia tinggal
bersama ibunya yg membuka usaha bar di Hiroshima. Suatu hari, Akihiroi
mengantar Bibi Kisako ke stasiun untuk pulang ke Saga. Akihiro malah didorong
ibunya masuk kereta,lalu Akihiro menuju ke Saga bersama bibinya. Di Saga,
Akihiro dititipkan pada neneknya yang berkerja sebagai tukang bersih-bersih di
Universitas, SD, dan SMP di Saga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka,
mulailah perjalanan hidup Akihiro di Saga.
Walaupun hidup miskin, nenek
Akihiro bukan orang yg pantang menyerah. Ia punya ratusan ide untuk membesarkan
cucunya. Contohnya ketika berjalan, ia mengikatkan magnet di belakangnya untuk
menarik logam-logam yg bertebaran di jalanan. Lalu logam-logam yg didapatnya ia
kumpulkan dan ia jual. Neneknya juga membentangkan galah di sungai agar benda
yg mengalir disungai tertahan oleh galah itu. Dari sana nenek mendapatkan
ranting atau batang pohon yg dikeringkan dan nantinya dijadikan bahan bakar.
Nenek juga menyebut sungai itu sebagai supermarket karena banyak bahan
makanan yg mengalir di sana.
Di hulu sungai ada pasar dan
biasanya para pedagang mencuci sayur dagangannya di sungai dan ada beberapa yg
hanyut terbawa arus sungai. Para pedangan itu juga membuang lobak, timun sawi
yang sudah rusak atau busuk ke sungai. Pendapat nenek adalah, lobak yang
berujung dua sekalipun bila dipotong dan di rebus, sama saja dengan yang lain.
Timun yang bengkok sekalipun bila dipotong dan direbus tetap saja timun. Tapi
bila tidak ada makanan yang hanyut nenek akan selalu berkata supermarket sedang
libur dengan ekspresi yang menyayangkan. Namun, dalam keadaan apapun nenek
pasti selalu ceria.
Kehidupan di Saga sangat menarik,
contohnya ketika Akihiro menginginkan camilan ia tidak perlu ke toko permen
karena buah-buahan dapat diambil langsung dari pohon, sepuasnya. Sedangkan
untuk bermain, ia membuat pondok kecil yang ia jadikan markas rahasia diatas
pohon dengan bahan baku batang kayu atau ranting pohon. Batang kayu dan ranting
pohon pun banyak bertebaran dijalan.
Di Saga, Akihiro bersekolah di SD
Akamatsu. Karena olahraga Kendo dan Judo sempat menjadi tren disekolahnya
Akihiro pun tertarik untuk mengikuti olahraga ini. Karena terkendala masalah
biaya, nenek menyarankan Akihiro untuk olahraga lari.
Setahun berlalu sejak hari
kedatangan Akihiro ke Saga. Kemudian tibalah hari festival olahraga. Ketika
lomba lari lima puluh meter untuk kelas bawah, Akihiro pun mendapat juara
pertama. Ini berkat saran dari nenek Osano.walaupun Akihiro selalu menjuarai
lomba lari di festival olahraga tahunan di sekolahnya, ibunya tak pernah
sekalipun datang untuk menontonnya.
Di sekolah Akihiro, banyak juga
tren yang lain, seperti krayon. Ketika di sungai, Akihiro mendapat seekor
binatang, lalu ia jual. Uang hasil penjualan digunakannya untuk membeli krayon
yg sangat ia banggakan.
Ketika Akihiro SMP, ia bergabung
dengan klub baseball. Saat itu, klub baseball terdiri atas 15 orang anak kelas
tiga dan 15 orang anak kelas dua. Karena kecepatan kaki Akihiro diakui, ia
langsung diangkat menjadi pemain tetap walaupun masih kelas satu. Ketika
Akihiro kelas dua dia ditetapkan menjadi kapten tim baseball. Tak disangka, Nenek
Osano tanpa beban membelikannya sepatu Spike seharga 2250 yen.
Hari berlalu semakin cepat. Tanpa
diduga-duga Akihiro mendapatkan kabar gembira yaitu ia diterima di SMA Kouryou
di Hirosima sebagai murid penerima beasiswa klub baseball. Sedih bercampur
gembira yang dirasakan Akihiro. Sedih karena harus meninggalkan Saga dan Nenek.
Gembira karena ia bisa tinggal bersama ibunya kembali. Neneknya menyarankan
Akihiro untuk bersekolah di Sekolah Bisnis Saga karena Neneknya masih belum bisa
melepas kepergian cucunya ke Hiroshima. Tetapi akhirnya Akihiro tetap memilih
SMA Kouryou, dan dia berjanji kepada neneknya akan datang setiap liburan musim
panas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar